Hingga kini, informasi yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan adanya pelanggaran SOP ataupun memastikan penyebab kematian Dani.

Karena itu, penjelasan berdasarkan hasil evaluasi medis tetap diperlukan untuk menjawab persoalan yang dipertanyakan keluarga.

Persoalan komunikasi manajemen juga menjadi perhatian setelah Ketua Komisi IV DPRD Sumenep, Mulyadi, menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu pembaruan informasi dari RS BHC pada Senin (26/10/2026).

Menurut Mulyadi, pihak rumah sakit sebelumnya berjanji memberikan informasi lanjutan mengenai kasus pasien meninggal tersebut. Namun, hingga Senin sore, pembaruan yang ditunggu belum diterima.

“Belum ada update,” kata Mulyadi melalui pesan WhatsApp kepada awak media, Senin (26/10).

Sementara itu, pemberitaan Media Jatim mengenai bantahan keluarga atas jalur damai menambah pentingnya kejelasan komunikasi dalam penanganan kasus tersebut.

Informasi mengenai penyelesaian dengan keluarga perlu dijelaskan berdasarkan keterangan pihak-pihak terkait agar tidak menimbulkan persepsi yang berbeda di tengah masyarakat.

Selain kasus Dani, pelayanan RS BHC juga mendapat keluhan dari keluarga pasien pengguna BPJS Kesehatan. Dalam pemberitaan Madura Today pada Senin (26/10/2026), seorang warga berinisial AR mengeluhkan cairan infus anggota keluarganya yang disebut tidak segera diganti meski pihak keluarga telah memberi tahu petugas.

Keluhan tersebut belum membuktikan adanya pelanggaran prosedur. Namun, laporan itu menjadi bagian dari catatan pelayanan yang perlu ditanggapi secara terbuka oleh manajemen rumah sakit.