SUMENEP, MaduraPost - Usaha gula merah milik Rosidah, warga Desa Pragaan Laok, Kabupaten Sumenep, tumbuh dari produksi rumahan menjadi pemasok ke sejumlah daerah di Madura, Jawa Timur.

Sejak dirintis pada 2006, bisnis yang mengandalkan nira siwalan itu kini mampu menghasilkan sekitar 500 kilogram gula merah setiap hari.

Peningkatan produksi tersebut tak lepas dari perjalanan panjang Rosidah membangun usaha. Perempuan berusia 50 tahun itu mengawali bisnisnya dengan peralatan sederhana dan modal terbatas.

Seluruh proses produksi sempat ia kerjakan sendiri demi menjaga usaha tetap berjalan sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga.

Ketekunannya mulai membuahkan hasil ketika kualitas gula merah produksinya semakin dikenal konsumen. Pesanan pun bertambah, membuka peluang bagi Rosidah untuk memperluas jangkauan pasar.

“Alhamdulillah seiring berjalannya waktu, kualitas gula merah buatan saya mulai dilirik konsumen. Permintaan mulai berdatangan,” ungkapnya, Senin (19/10).

Ketika permintaan terus meningkat, Rosidah menyadari bahwa kemampuan produksi harus ditopang modal yang memadai. Pada 2016, ia akhirnya mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui BRI Unit Pragaan.

Keputusan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan bisnisnya. Modal yang diperoleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan mendukung kelancaran produksi.

“Saya sudah lama jadi nasabah BRI, tapi baru tahun 2016 itu memberanikan diri mengajukan pinjaman KUR. Prosesnya cepat dan tim dari BRI sangat responsif. Saya memilih KUR ini karena selain bunganya rendah juga tidak ada agunan. Jadi cocok untuk usaha kecil seperti saya,” urai Rosidah.

Setelah melunasi pinjaman pertamanya, Rosidah kembali mengakses pembiayaan untuk memperbesar kapasitas usaha. Pada pengajuan kedua, nilai pinjaman meningkat menjadi Rp50 juta. Kepercayaan pembiayaan itu berlanjut hingga 2024, ketika ia kembali memperoleh dukungan KUR dengan nominal lebih besar.

Bagi Rosidah, tambahan modal bukan sekadar angka dalam catatan keuangan. Pembiayaan tersebut membantu memastikan ketersediaan bahan baku, mendukung kebutuhan peralatan, dan menjaga produksi tetap berjalan ketika pesanan meningkat.

“KUR BRI ini sangat bermanfaat bagi kami. Khususnya untuk penyediaan bahan baku, peralatan produksi agar bisa memenuhi permintaan,” tandasnya.

Perubahan kapasitas usaha terlihat dari jumlah produksi harian. Sebelum memperoleh pembiayaan KUR, Rosidah rata-rata menghasilkan sekitar 200 kilogram gula merah per hari. Kini, jumlah itu meningkat menjadi kurang lebih 500 kilogram.

Pertumbuhan bisnisnya juga membawa manfaat bagi warga sekitar. Jika dahulu seluruh pekerjaan ditangani sendiri, kini Rosidah mempekerjakan enam orang. Ia turut membeli bahan baku dari masyarakat setempat, sehingga aktivitas usahanya ikut menggerakkan ekonomi lingkungan sekitar.

“Alhamdulillah kami juga bisa membantu warga sekitar. Selain menerima hasil bahan baku dari mereka, kami juga membantu menyerap tenaga kerja. Jika awal-awal saya merintis usaha ini saya kerjakan sendiri, saat ini pekerja saya ada 6 orang,” ungkapnya.

Pasar gula merah Rosidah kini meluas ke sejumlah kabupaten di Madura. Selain Sumenep, produknya dipasarkan hingga Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Pemilik toko yang menjadi pelanggan tetap dapat memesan melalui telepon, kemudian Rosidah menyiapkan pengiriman sesuai kebutuhan.

Meluasnya pasar dan bertambahnya volume produksi ikut mendorong peningkatan omzet. Hasil usaha tersebut tidak hanya menopang kebutuhan keluarganya, tetapi juga membantu kedua anaknya membuka usaha di Surabaya.

Di tengah perkembangan bisnis, Rosidah menyebut hubungan dengan BRI tidak berhenti pada urusan pembiayaan. Kunjungan petugas ke rumah dan tempat produksinya menjadi ruang komunikasi untuk membahas perkembangan usaha, kebutuhan operasional, hingga pendampingan yang diperlukan.

Ia merasakan kunjungan tersebut sebagai bentuk dukungan dalam menjalankan bisnis. Komunikasi yang terbuka juga memudahkannya berkonsultasi ketika menghadapi kebutuhan usaha, termasuk mengenai tambahan modal untuk menjaga kegiatan produksi tetap lancar.

Sementara itu, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan, akses pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah menjadi bagian dari upaya BRI mendorong produktivitas serta memperluas kesempatan kerja.

Dukungan tersebut, menurut dia, juga diarahkan untuk memperkuat sektor riil yang menopang perekonomian nasional.

Hingga Juni 2026, realisasi penyaluran KUR BRI tercatat mencapai Rp103,81 triliun atau 54,63 persen dari kuota tahun ini sebesar Rp190 triliun. Sebanyak 75,02 persen dari total penyaluran tersebut diarahkan ke sektor produktif.

“Kisah Rosidah membesarkan usaha Gula Merah di Sumenep jadi kisah inspiratif dari pelaku UMKM yang memanfaatkan KUR sebagai akses permodalan usaha dan terus berkembang melalui pemberdayaan BRI. Semoga kisah ini menjadi kisah inspiratif yang dapat direplikasi oleh pelaku UMKM lainnya di berbagai wilayah di Indonesia,” tegas Akhmad.

Perjalanan Rosidah menunjukkan bagaimana usaha berbasis potensi lokal dapat berkembang ketika ketekunan pelaku usaha bertemu dengan akses permodalan.

Dari dapur produksi sederhana di Pragaan Laok, gula merah buatannya kini menjangkau pasar lintas kabupaten sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.***