Setelah melunasi pinjaman pertamanya, Rosidah kembali mengakses pembiayaan untuk memperbesar kapasitas usaha. Pada pengajuan kedua, nilai pinjaman meningkat menjadi Rp50 juta. Kepercayaan pembiayaan itu berlanjut hingga 2024, ketika ia kembali memperoleh dukungan KUR dengan nominal lebih besar.
Bagi Rosidah, tambahan modal bukan sekadar angka dalam catatan keuangan. Pembiayaan tersebut membantu memastikan ketersediaan bahan baku, mendukung kebutuhan peralatan, dan menjaga produksi tetap berjalan ketika pesanan meningkat.
“KUR BRI ini sangat bermanfaat bagi kami. Khususnya untuk penyediaan bahan baku, peralatan produksi agar bisa memenuhi permintaan,” tandasnya.
Perubahan kapasitas usaha terlihat dari jumlah produksi harian. Sebelum memperoleh pembiayaan KUR, Rosidah rata-rata menghasilkan sekitar 200 kilogram gula merah per hari. Kini, jumlah itu meningkat menjadi kurang lebih 500 kilogram.
Pertumbuhan bisnisnya juga membawa manfaat bagi warga sekitar. Jika dahulu seluruh pekerjaan ditangani sendiri, kini Rosidah mempekerjakan enam orang. Ia turut membeli bahan baku dari masyarakat setempat, sehingga aktivitas usahanya ikut menggerakkan ekonomi lingkungan sekitar.
“Alhamdulillah kami juga bisa membantu warga sekitar. Selain menerima hasil bahan baku dari mereka, kami juga membantu menyerap tenaga kerja. Jika awal-awal saya merintis usaha ini saya kerjakan sendiri, saat ini pekerja saya ada 6 orang,” ungkapnya.
Pasar gula merah Rosidah kini meluas ke sejumlah kabupaten di Madura. Selain Sumenep, produknya dipasarkan hingga Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Pemilik toko yang menjadi pelanggan tetap dapat memesan melalui telepon, kemudian Rosidah menyiapkan pengiriman sesuai kebutuhan.
Meluasnya pasar dan bertambahnya volume produksi ikut mendorong peningkatan omzet. Hasil usaha tersebut tidak hanya menopang kebutuhan keluarganya, tetapi juga membantu kedua anaknya membuka usaha di Surabaya.
Di tengah perkembangan bisnis, Rosidah menyebut hubungan dengan BRI tidak berhenti pada urusan pembiayaan. Kunjungan petugas ke rumah dan tempat produksinya menjadi ruang komunikasi untuk membahas perkembangan usaha, kebutuhan operasional, hingga pendampingan yang diperlukan.