Selain menjadi etalase produk inovasi, kafe tersebut juga diarahkan sebagai ruang pembelajaran kewirausahaan bagi mahasiswa.

Mahasiswa yang memiliki ide atau produk usaha dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai proses pengembangan produk, pemasaran hingga pengelolaan bisnis.

UTM juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk ikut terlibat dalam pengelolaan kafe tersebut.

“Harapannya bisa melatih para mahasiswa, khususnya jiwa entrepreneur, melalui dilibatkan dalam pengelolaan kafe,” katanya.

Keterlibatan mahasiswa diharapkan memberikan pengalaman nyata dalam menjalankan usaha. Mereka tidak hanya mendapatkan pemahaman kewirausahaan dari ruang kelas, tetapi juga belajar menghadapi dinamika pengelolaan usaha secara langsung.

Pengembangan kafe juga berkaitan dengan upaya UTM mengoptimalkan sumber pendapatan universitas. Sebagai perguruan tinggi berstatus Badan Layanan Umum (BLU), kampus dituntut mampu mengelola berbagai potensi yang dimiliki secara lebih produktif.

Prof. Safi’ mengatakan, status BLU tidak hanya berkaitan dengan bagaimana universitas menggunakan anggaran, tetapi juga bagaimana menciptakan sumber pendapatan baru.

“Karena kita ini sudah BLU tentu tidak hanya bisa menghabiskan anggaran, tapi juga bagaimana bisa menghasilkan anggaran,” tegasnya.

Atas dasar itu, berbagai potensi yang lahir dari aktivitas Tri Dharma Perguruan Tinggi mulai diarahkan agar memiliki nilai produktif. Riset, inovasi dan kewirausahaan diharapkan dapat berjalan dalam satu ekosistem yang saling mendukung.