Darul kemudian menghubungkan perubahan tersebut dengan pentingnya menjaga ingatan terhadap perjalanan politik masa lalu. Menurut dia, sejarah tidak semestinya hanya dikenang pada momentum tertentu, tetapi harus menjadi bahan pembelajaran bagi generasi kader berikutnya.
Ia menilai nilai keberanian, solidaritas, dan keberpihakan terhadap rakyat harus tetap hidup dalam diri kader. Tanpa ketiga hal tersebut, organisasi politik berisiko kehilangan alasan utama mengapa perjuangan politik itu dijalankan.
“Rendah hati dalam kemenangan dan kekalahan harus menjadi nilai etis yang dipegang setiap kader,” ujarnya.
Bagi Darul, sikap tersebut penting karena perjalanan politik tidak selalu berlangsung dalam suasana kemenangan. Ada saatnya sebuah perjuangan berhasil, tetapi ada pula masa ketika harus menerima kekalahan.
Karena itu, ia meminta kader tidak menjadikan kemenangan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi dari masyarakat maupun pihak lain. Sebaliknya, kekalahan juga tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan perjuangan.
Dalam pandangannya, kekuatan politik pada akhirnya tetap bertumpu pada hubungan antarmanusia. Persaudaraan dan kebersamaan menjadi modal yang harus dipertahankan agar perjuangan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Tanpa persaudaraan yang kuat, cita-cita besar sulit diwujudkan di masa depan,” tegas Darul.
Ia juga mengingatkan bahwa keberadaan partai di tengah masyarakat harus diterjemahkan melalui kerja nyata. Kader, kata dia, perlu memahami bahwa posisi politik bukan sekadar tentang jabatan, melainkan tanggung jawab untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.
Refleksi Kudatuli yang digelar DPC PDI Perjuangan Sumenep itu diawali dengan doa bersama dan pemaparan singkat mengenai sejarah peristiwa 27 Juli 1996.