Agam Satriya Naraendra mengaku bersyukur dapat menjadi bagian dari program tersebut. Menurutnya, pengalaman yang diperoleh selama mengikuti GFLN membuka perspektif baru yang sebelumnya sulit dijangkau oleh pelajar dari wilayah kepulauan.
"Saya senang sekali bisa ke Jakarta melalui program GFLN ini. Perjalanan kami cukup menantang, mulai dari Sapeken ke Pagerungan Besar, lalu terbang ke Surabaya hingga Jakarta. Saat tiba, gedung-gedung pencakar langit sangat menginspirasi kami," kata Agam, Rabu (24/6).
Ia menilai kesempatan seperti ini sangat berarti bagi anak-anak kepulauan yang jarang memiliki peluang mengikuti kegiatan berskala nasional. Karena itu, ia berharap program serupa dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak pelajar di Sapeken.
"Terima kasih kepada SKK Migas dan KEI yang telah memberikan kesempatan ini. Jarang sekali anak kepulauan seperti kami bisa merasakan pengalaman ke kota besar, apalagi sampai naik pesawat gratis dan mengikuti kegiatan nasional," tambahnya.
Sebelum mengikuti rangkaian kegiatan di Jakarta, para peserta terlebih dahulu menyelesaikan AFS Global Competence Certification yang berlangsung dalam empat sesi pembelajaran.
Program tersebut membekali peserta dengan pemahaman mengenai keberagaman, peran sebagai warga global yang aktif, serta penguatan kapasitas kepemimpinan.
Bagi Agam, metode pembelajaran yang diterapkan selama GFLN terasa berbeda karena lebih interaktif dan dekat dengan dunia anak muda. Berbagai materi disampaikan melalui pendekatan yang menyenangkan sehingga mudah dipahami peserta.
"Banyak pelajaran yang kami dapatkan, mulai dari kerja tim, riset masalah, perencanaan proyek, hingga manajemen sampah. Semua dikemas dengan cara yang menyenangkan seperti kuis, outing, dan mini games," tuturnya.
Ia juga menganggap pengalaman tersebut sebagai sarana evaluasi diri untuk terus meningkatkan kemampuan memimpin dan berkontribusi di lingkungan sekitar.