Menurutnya, prevalensi stunting di Kabupaten Sumenep saat ini berada di angka 11,6 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 16,7 persen di 2023 dan 21,6 persen di 2022.
Ellya menjelaskan, bantuan tersebut berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) susu formula kepada 726 balita dengan kondisi stunting dan kekurangan gizi serta 160 ibu hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia.
“Untuk 726 balita bermasalah gizi. Susu formula untuk 160 ibu hamil KEK dan anemia yang berpotensi melahirkan bayi stunting jika tidak segera diberikan intervensi yang tepat pada masa kehamilan,” paparnya.
Ia juga menuturkan, distribusi bantuan susu nantinya dilakukan melalui masing-masing Puskesmas kepada para penerima sasaran.
“Distribusi bantuan susu itu nantinya lewat Puskesmas ke sasaran,” tandasnya.
Dalam penelusuran media ini di laman pengadaan online, susu balita yang digunakan dalam program tersebut tercatat menggunakan produk StuntiCare dengan harga Rp55.500 per kemasan.
Sementara untuk ibu hamil menggunakan produk NurtureMom dengan harga Rp66.600 per kemasan. Kedua produk tersebut diketahui dipasarkan oleh perusahaan berbasis di Sidoarjo, Jawa Timur.
Jika dihitung berdasarkan nilai anggaran dan harga produk, jumlah distribusi diperkirakan mencapai sekitar 8.087 kemasan susu balita dan 1.818 kemasan susu ibu hamil.
Dengan jumlah sasaran yang tercatat, masing-masing balita dan ibu hamil diperkirakan menerima sekitar 11 kemasan susu selama program intervensi berlangsung.***