Di luar faktor eksternal, Perry juga menyinggung adanya pola musiman yang meningkatkan kebutuhan dolar dalam negeri.

"April, Mei, Juni ini memang permintaan terhadap dolarnya tinggi, ada untuk pembayaran repatriasi dividen, ada pembayaran utang, dan juga untuk jamaah haji. Tapi Rupiah adalah undervalue dan ke depan akan stabil dan cenderung menguat. Itu nomor satu," katanya.

Ia menegaskan, tekanan tersebut bersifat sementara dan optimistis fundamental ekonomi Indonesia akan kembali mendorong penguatan Rupiah dalam waktu mendatang.***