“Kalau tetap dibangun di sini, rasanya percuma. Kondisi tanahnya tidak stabil, bisa rusak lagi. Relokasi menjadi solusi terbaik agar warga benar-benar aman,” tegasnya.
Sebelumnya, bencana tanah longsor di Dusun Paseset Timur berdampak pada 10 rumah milik 13 kepala keluarga. Kerusakan yang terjadi cukup parah, mulai dari dinding rumah retak, bagian ampera atau pondasi amblas, hingga bangunan yang mendadak miring.
Asmui, salah satu warga terdampak, mengatakan bencana serupa sebenarnya pernah terjadi pada 2023. Namun, kondisi kali ini jauh lebih mengkhawatirkan.
“Dulu memang pernah retak dan tanah bergeser, tapi tidak separah sekarang. Kali ini rumah-rumah di sini sudah kelihatan tidak bisa ditempati lagi,” ungkapnya lirih.
Kini, harapan warga bertumpu pada langkah cepat dan kepedulian berbagai pihak. Di tengah bangunan miring dan tanah yang terus bergerak, kunjungan Ketua Baznas Pamekasan menjadi secercah harapan bahwa mereka tidak dibiarkan menghadapi bencana ini sendirian.***