Simbol tersebut menjadi bukti nyata bagaimana peran Kiai Bakir dalam perjuangan kemerdekaan diakui oleh pemimpin tertinggi negeri ini.

Meski jasanya begitu besar, hingga kini nama Kiai Bakir belum tercatat secara resmi sebagai Pahlawan Nasional.

Konon, beliau sendiri menolak dinobatkan sebagai pahlawan karena sifatnya yang rendah hati. Ia tidak ingin dikultuskan dan lebih memilih tetap menjadi pelayan umat.

Namun, di tengah era yang penuh dengan distorsi sejarah dan krisis keteladanan, sudah saatnya santri, alumni, serta masyarakat Madura memperjuangkan gelar pahlawan bagi Kiai Bakir.

Bukan sekadar untuk penghargaan, tetapi untuk kepentingan sejarah dan warisan bangsa. Jika bukan para santrinya yang memperjuangkan, siapa lagi?***