Selain sensor eksternal, sebanyak 56% jurnalis mengaku melakukan penyensoran mandiri (swasensor), dengan 18% di antaranya hampir selalu menyensor berita sensitif.

Swasensor dilakukan untuk menghindari konflik atau kontroversi (57%), melindungi narasumber atau informasi rahasia (48%), serta menghindari ancaman terhadap keselamatan pribadi (37%).

Sebagian kecil melakukan sensor setelah mengalami tekanan dari pihak tertentu (17%) atau mendapat respons negatif atas pemberitaan sebelumnya (15%).

Meskipun demikian, survei juga menunjukkan bahwa sembilan dari sepuluh jurnalis menganggap swasensor berdampak negatif terhadap kebebasan pers.

“Ini menunjukkan adanya kesadaran jurnalis untuk tetap menyampaikan informasi secara akurat, namun karena ancaman yang ada, mereka lebih memilih mengutamakan keselamatan diri sendiri,” pungkas Nazmi.***