Selain dianggap video tersebut adalah editan semata, Joko mengaku bahwa pernyataannya adalah guyonan. Sementara video yang tersebar di platform Facebook adalah video yang tidak lengkap, alias telah melewati proses editing atau pemotongan video secara sepihak.
"Jadi dari video viral itu hanyalah editan, tidak lengkap. Kalau lengkap, pasti pertama kali saya sudah menyampaikan kata-kata assalamualaikum. Kemudian siapa petinggi setelah Camat, ada pak Kapolsek, Danramil, pasti sudah saya sebutkan. Nah, dari video itu kan tidak ada. Malah sudah dipotong-potong. Jadi saya minta maaf, memang kesalahan saya," akuinya.
Dia pun juga mengklarifikasi atas instruksinya pada Kepala Desa (Kades) untuk mencuri sapi milik warga jika tidak ingin divaksin. Joko menerangkan, seorang Kades harus memiliki kartu sakti atau kartu AS. Tujuannya, kata dia, agar setiap ada laporan apapun dari warga harus tersampaikan kepada pemerintah desa (Pemdes), utamanya Kades.
"Tujuan saya hanya ingin Kades itu mau bergerak dengan maksimal. Maksudnya kata-kata mencuri itu bukan lantas harus mencuri, akan tetapi bagaimana Kades memiliki kartu AS. Misalnya saja, jika ada warganya yang sakit langsung bisa ke Kades, ada warga meninggal ke Kades, sampai ada sapi warga yang hilang juga langsung ke Kades untuk melakukan laporan. Ini maksud saya," terangnya.