"Pertanian ini bisa dimulai dari mengubah mindset, jadi bertani itu tidak harus bergelut dengan lumpur, namun bertani itu bisa dimulai dengan anak didik ada di pesantren tidak hanya belajar ilmu dari pesantren bisa juga belajar cara bertani. Tapi ada kurikulum terkait dengan pengenalan pertanian nanti," jelasnya.
Selain itu, ketika keluar dari Pondok Pesantren bisa menerapkan ilmu dari pesantren juga bisa menerapkan ilmu yang dari pertanian itu kebutuhan mereka.
"Sosialisasi tersebut sifatnya adalah bahwa mengekspos artinya pendayagunaan pemuda milenial untuk bisa menggerakkan pembangunan pertanian di pedesaan ini ini tadi kita sampaikan kepada stekholder, bahkan mendapat dukungan dari KTI dan KTNA dan juga termasuk dari Pondok Pesantren," imbuhnya.
"Harapan saya kedepan menginginkan generasi petani melenial, ada proses untuk pergantian petani yang hebat, karena yang muda ini pintar pegang HP bisa cepet menginformasikan, hingga bisa kordinasikan kedinas terkait," pungkasnya.