"Memang tidak mudah menulis sejarah PMII Sumenep. Saya sebagai penulis berusaha se objektif mungkin menulis sejarah, dari metode dan lainnya," kata dia pada media ini, Senin (12/4).

Buku yang berjudul "Napak Tilas Gerakan Mahasiswa : Historiografi PMII Sumenep Tahun 1999-2007" seolah membuat Fauzi tak hentinya-hentinya ingin menceritakan kepiluan asam manisnya sebuah proses. Dia meyakini, bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil.

Buktinya, saat menggarap bukunya itu, Fauzi mengaku berulang kali dipatahkan karakter dan semangatnya, dientengkan, hingga dianggap tidak penting atas apa yang dilakoninya. Baginya, hidup untuk mengetahui pergerakan adalah perjalanan mulia dari pada hanya mengenang sejarah tanpa menjadi pelaku sejarah.

"Selama menulis, ada yang mensupport, ada yang tidak sama sekali. Tapi sekali lagi, bagi saya menulis sejarah PMII ini menjadi ikhtiar saya untuk mengajarkan kader-kader PMII se Indonesia, khususnya Sumenep agar cinta lestari," urai dia.