SUMENEP, MaduraPost - Lahir di angkatan 2015 Serikat Aktivis Demokrasi Islam Sumenep (SADIS) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) STKIP PGRI Sumenep, menjadikan sosok Akh. Fauzi (24) sebagai pemuda yang lemah lembut dan berani saat menjalani sebuah proses.

Selama meniti karirnya di Komisariat PMII STKIP PGRI Sumenep, tak banyak Fauzi menelan pahit cemooh berbagai sudut pandang dari beberapa kalangan. Selain berangkat dari keluarga yang berada pada strata menengah kebawah, rintangan dan ulasan proses menjadi seorang aktivis dienyamnya.

Pemuda kelahiran 1996 tersebut mulanya disepelekan sebelum ia berhasil menulis sejarah PMII Sumenep. Dia menegaskan, terbitnya buku yang digarapnya tersebut adalah sebuah kegelisahan atas perspektif pengecualian bahwa seorang aktivis harus mencintai literasi.

Disamping itu, paradigma yang beredar di masyarakat tentang seorang mahasiswa dan anarkisme demontrasi membuat sahabat Fauzi berfikir pentingnya belajar tentang dialektika pergerakan dari masa ke masa.

Meski begitu, anggota PC PMII Sumenep ini melihat sisi yang berbeda tentang keadaan dan peradaban aktivis PMII Bumi Sumekar.