OPINI, MaduraPost - Setiap kali peringatan itu hadir, maknanya sesungguhnya melampaui sekadar ritual tahunan bagi kalangan pers.
Ia menjadi ajakan untuk menengok kembali bagaimana bahasa bekerja dalam ruang publik dan bagaimana ia memengaruhi cara kita memahami dunia bersama.
Di tengah realitas digital yang dipenuhi dering notifikasi, linimasa yang bergulir tanpa jeda, serta informasi yang dipilah oleh sistem algoritma, surat kabar kerap dipersepsikan sebagai medium yang telah usang.
Kecepatannya kalah dari ponsel pintar yang selalu berada di tangan. Namun justru dalam kondisi inilah, fungsi paling hakiki surat kabar menemukan pijakannya kembali, sebagai wadah diskursus publik tempat bahasa tidak hanya menyampaikan kabar, tetapi juga menyusun nalar, membangun keyakinan, dan membentuk kesadaran kolektif.
Sejak awal kemunculannya, surat kabar tidak pernah berdiri sebagai medium yang kosong makna. Realitas selalu disajikan melalui pilihan diksi, sudut pandang tertentu, susunan informasi, serta penekanan yang disengaja.