Kini Sumatera bukan lagi pulau, tetapi conveyor belt raksasa yang mengirim batubara, timah, bauksit, dan nikel ke luar negeri.

Sementara itu, kita menerima balasannya dalam bentuk banjir, longsor, polusi udara, trauma anak-anak, serta sejarah hidup yang ditulis dengan lumpur. Royalti memang masuk ke negara, tetapi hanya dalam bentuk recehan, sedangkan masyarakat membayar sisanya dengan hidup mereka.

Jadi ketika ada yang bertanya, “Mengapa banjir semakin parah?”, jawab saja dengan tenang, “Karena kita membiarkan satu pulau berubah menjadi lubang galian raksasa dengan izin resmi dari negara.”

Sumatera tidak sedang mati, Sumatera sedang dibunuh perlahan, legal, dan sistematis. Pelakunya bukan hanya perusahaan tambang, tetapi tanda tangan pada lembaran izin.

Yang tersisa hanyalah menunggu bab terakhir, ketika kita menonton berita dan menyadari bahwa film horor berjudul Indonesia Tanpa Sumatera bukan lagi cerita fiksi. Namun ini adalah bentuk kritik terhadap pemerintah yang sudah buta hati nuraninya.