Ia mengakui bahwa Sumenep juga pernah merekrut atlet dari luar, namun menegaskan perbedaan antara mendatangkan atlet dan kehilangan atlet sendiri yang telah dibina bertahun-tahun.
Asmoni menyadari persoalan klasik berupa minimnya anggaran sering menjadi alasan mandeknya pembinaan. Namun ia menilai hal itu tidak bisa menjadi pembenaran untuk berhenti melakukan proses pembibitan.
“Seringkali kita terbentur anggaran, itu jelas. Tapi pembinaan itu tetap harus berjalan. Ini tugas semua pihak, legislatif, eksekutif, masyarakat untuk ikut membina. Kalau tidak, prestasi hanya jadi wacana,” ujarnya.
Ia memberikan contoh cabang atletik yang menurutnya memiliki pembinaan terbaik, karena konsisten melakukan latihan dan memiliki faktor internal–eksternal yang relatif kuat.
Menurut Asmoni, masih banyak atlet yang mengandalkan kekuatan fisik semata. Padahal, dalam olahraga modern, atlet harus memiliki kecerdasan taktis, kemampuan mengambil keputusan cepat, serta pemahaman terhadap data performa diri.