Di sisi lain, Kades Sapeken, Joni Junaidi, tidak menolak bahwa ada peristiwa tersebut. Hanya saja, ia menekankan bahwa tindakannya bukanlah penganiayaan, melainkan bentuk pembinaan terhadap warganya.
“Itu bagian dari pembinaan saya sebagai kepala desa. Tujuannya untuk menjaga nama baik desa ini,” terang Joni.
Menurutnya, gaya berpakaian Nadia yang terbuka ditambah tato di tubuhnya dianggap bertolak belakang dengan nilai-nilai agama yang dijunjung masyarakat Sapeken.
“Wilayah kami bukan desa biasa. Kami punya kewajiban menjaga marwah Islam. Jadi kalau ada warga atau pendatang yang melanggar norma, pasti kami tegur,” imbuhnya.