“Interaksi kedua sistem cuaca global ini memicu hujan di tengah musim kemarau, mengganggu proses penguapan air laut untuk menghasilkan kristal garam,” ungkap Mifta pada MaduraPost, Jumat (2/8).
Akibat cuaca yang tidak optimal, produksi garam mengalami penurunan signifikan.
“Proses panen garam yang terganggu oleh cuaca mengakibatkan penurunan produksi sekitar 25 hingga 30 persen,” jelas Mifta.
Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu, produsen garam di Indonesia harus beradaptasi dengan tantangan baru yang dibawa oleh perubahan iklim.***