Narasi-narasi menjatuhkan, Pembunuhan karakter semakin berkembang, dan seakan akan terstruktur dalam dimensi sosial, merampas dan menguburkan mimpi dr setiap individu untuk sekedar mendapatkan pendidikan yang layak.
Jika pendidikan itu hanya hak anak-anak orang kaya, maka akan selamanya anak-anak dari keluarga miskin meneruskan tradisi orang tua nya, karena mereka tidak diberikan kesempatan untuk merubah nasib.
Bukankah sudah pasti sebagaimana firman Allah, Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu yang merubahnya.
Berbekal keyakinan itu, saya terus berusaha membuktikan bahwa hak pendidikan, hak bermimpi, hak mewujudkan cita-cita termasuk hak bahagia itu menjadi hak melekat yang dimiliki individu, bukan ditentukan oleh lingkungan dan seberapa banyak materi yang mereka punya.
Tentu, apa yang saya yakini ini bertengan dengan kebenaran umum yang tercipta. Saat kita bertentangan dengan kebenaran umum, bukan hanya saja kita yang dianggap "gila", tapi dimusuhi, dijauhi dan diremehkan juga menjadi hal yang pasti.