Karena dipasrahkan, kata Edi, timbullah persoalan kontroversi. Sebagian warga ada yang bersedia, sebagian pula ada yang keberatan. Menurut Edi, hadirnya proyek, warga bersedia mengerjakannya namun hanya dalam waktu tertentu.

"Sementara bagi yang keberatan, warga mempersoalkan jika proyek tersebut milik pemerintah, kenapa hanya disediakan material proyek tanpa dilengkapi dengan pekerja," tambah Edi.

Bahkan, sambung Edi, hadirnya proyek justru mengganggu aktivitas warga. Sebab selain tidak maksimal dalam pekerjaan, warga  mayoritas sibuk dengan panen tembakau.

"Per Jumat proyek ini dikerjakan secara gotong royong. Coba misalkan pemborongnya ditanggung pemerintah, mungkin tiga sampai empat hari sudah selesai," ketusnya.