Sebaliknya, keterkaitan dengan figur publik juga tidak boleh menjadi alasan untuk menghindari pertanyaan mengenai pelayanan, tata kelola, dan pertanggungjawaban.

Masalahnya, kritik terhadap lembaga yang dikaitkan dengan tokoh tertentu kerap bergeser menjadi perdebatan tentang siapa yang sedang diserang dan siapa yang harus dibela.

Pertanyaan mengenai pelayanan pun tenggelam dalam pertarungan citra. Padahal, keluarga yang kehilangan anggota keluarganya tidak sedang mengikuti kontestasi politik.

Mereka membutuhkan penjelasan mengenai apa yang terjadi, bagaimana keputusan medis diambil, dan apakah prosedur yang semestinya telah dijalankan.

Keterbukaan adalah bagian dari tanggung jawab. Kepercayaan terhadap rumah sakit tidak hanya dibangun melalui fasilitas dan reputasi, tetapi juga melalui kualitas pelayanan, komunikasi yang layak, serta kesediaan menangani pengaduan secara profesional.

Karena itu, ketika muncul persoalan serius, keterbukaan bukan sekadar strategi komunikasi. Ia merupakan bagian dari tanggung jawab institusi.

Keterbukaan memang memiliki batas. Rekam medis dan data pribadi pasien harus dilindungi. Namun, menjaga kerahasiaan berbeda dari menghindari pertanggungjawaban.

Rumah sakit tetap dapat menjelaskan mekanisme pengaduan, proses evaluasi, dan langkah perbaikan tanpa melanggar hak pasien maupun keluarganya.

Jika BHC meyakini bahwa pelayanan telah berjalan sesuai prosedur, pemeriksaan yang transparan dapat membantu menjelaskan dasar keyakinan tersebut. Jika ditemukan kekeliruan, pihak yang bertanggung jawab harus bersedia mengakuinya dan melakukan perbaikan.