Bagi Kampoi, peningkatan kapasitas warga merupakan salah satu fondasi dalam membangun ketangguhan masyarakat yang tinggal di kawasan kepulauan.
Ia berharap kegiatan bersama tersebut berkembang menjadi kebiasaan kesiapsiagaan, bukan sekadar pelatihan sesaat.
“Bagi kami, yang terpenting bukan hanya pelatihan hari ini, tetapi bagaimana pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat terus dipraktikkan dan menjadi bagian dari kesiapsiagaan masyarakat," paparnya.
"Kami berharap ke depan Gugus Tanggap Bencana Pagerungan Besar semakin mandiri, solid, dan mampu menjadi penggerak kesiapsiagaan serta ketangguhan masyarakat dalam menghadapi berbagai kondisi darurat,” kata Kampoi menambahkan.
Manfaat pelatihan juga dirasakan peserta. Mita, salah seorang peserta, mengatakan materi pertolongan pertama memberinya pemahaman baru tentang tindakan yang perlu dilakukan ketika menemukan korban dalam situasi kegawatdaruratan.
Menurut dia, simulasi bersama petugas pemadam kebakaran membuat materi lebih mudah dipahami karena peserta tidak sekadar mendengar penjelasan, tetapi juga mencoba secara langsung prosedur penanganannya.
“Kami bersyukur bisa belajar langsung tentang pertolongan pertama pada korban dalam kondisi kegawatdaruratan, dan pada saat menghadapi kebakaran. Kami juga bisa mengikuti simulasi bersama narasumber dari Damkar,” kata Mita.
Mita berharap keterampilan yang diperoleh dapat dibawa keluar dari ruang pelatihan dan menjadi pengetahuan praktis yang berguna dalam berbagai situasi.
“Ilmu ini bisa kami gunakan untuk mengantisipasi maupun menghadapi kejadian kebakaran atau bencana lainnya, bukan hanya di tengah masyarakat, tetapi juga di lingkungan keluarga dan tempat kerja,” tandasnya.***