Ia menyebut peningkatan kemampuan kader menjadi salah satu bagian penting dalam memperkuat upaya kesehatan ibu dan anak di wilayah kepulauan.

“Pelatihan seperti ini sangat penting karena kader merupakan bagian yang dekat dengan masyarakat. Ketika pengetahuan dan kapasitas kader semakin kuat, edukasi kepada keluarga juga akan semakin baik,” ujarnya.

Ellya menegaskan, persoalan stunting tidak dapat ditangani oleh satu unsur saja. Peran tenaga kesehatan perlu berjalan beriringan dengan kader Posyandu, pemerintah desa, keluarga, masyarakat dan pihak lain yang memberikan dukungan.

“Semangat kolaborasi ini harus terus kita jaga. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk SKK Migas-KEI melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM), kami optimistis upaya pencegahan dan penanganan stunting di wilayah Kepulauan Sapeken dapat terus diperkuat,” katanya.

Ia menambahkan, tugas kader di lapangan justru banyak berkaitan dengan hal-hal sederhana yang dilakukan secara rutin. Mulai mengingatkan pemeriksaan kehamilan, mengedukasi keluarga mengenai kebutuhan gizi, memantau perkembangan balita hingga mengajak masyarakat memanfaatkan fasilitas kesehatan.

“Kami berharap para kader tetap semangat, terus belajar dan tidak lelah memberikan edukasi kepada masyarakat. Dengan kerja bersama dan kepedulian yang terus tumbuh, kita optimistis anak-anak di Kepulauan Sapeken dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal,” ungkapnya.

Sementara itu, Manager Public & Government Affair (PGA) sekaligus penanggung jawab Program PPM KEI, Kampoi Naibaho mengatakan, pelatihan tersebut menjadi bekal bagi kader untuk melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat.

Menurutnya, keluarga perlu memiliki pemahaman bahwa pencegahan stunting tidak semestinya baru dilakukan setelah persoalan pertumbuhan muncul.

"Keluarga perlu memahami bahwa pencegahan stunting tidak hanya dilakukan ketika anak sudah mengalami masalah pertumbuhan."