SUMENEP, MaduraPost - Lebih dari 500 mahasiswa baru Universitas PGRI Sumenep, Madura, Jawa Timur, mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun 2026.
Kegiatan yang digelar di halaman kampus tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan akademik sekaligus membangun karakter sejak awal memasuki dunia perguruan tinggi.
Rangkaian PKKMB dimulai dengan kegiatan pra-PKKMB pada Senin, 24 Agustus 2026. Sedangkan pelaksanaan utama berlangsung pada Rabu hingga Jumat, 26-28 Agustus 2026.
Mengusung tagline “Eksplorasi Global, Berjiwa Lokal: Bergerak Demi Karya Berdampak”, PKKMB Universitas PGRI Sumenep tahun ini menggunakan maskot burung hantu.
Maskot tersebut menjadi simbol semangat mahasiswa untuk terus belajar, berpikir luas, sekaligus tetap berpijak pada nilai dan budaya lokal.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo yang diwakili Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Dedi Falahuddin, unsur Polres Sumenep, DPRD Sumenep, Kodim 0827/Sumenep, Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 931 Ksatria Jokotole, serta jajaran civitas akademika Universitas PGRI Sumenep.
Hadir pula Wakil Rektor I, II dan III, PPLPT Universitas PGRI Sumenep, serta jajaran panitia dan unsur pendukung lainnya.
Ketua Panitia PKKMB Universitas PGRI Sumenep, Moh. Rusdi, menyampaikan apresiasi kepada pimpinan universitas dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ia juga mengapresiasi kerja keras panitia yang telah mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan.
“Karena itu saya mewakili seluruh jajaran panitia menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak Rektor beserta seluruh jajaran pimpinan dan pihak-pihak terkait yang telah memberikan dukungan moral maupun material. Terima kasih juga kami sampaikan kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras siang dan malam demi kesuksesan acara ini,” ujarnya, Rabu (26/8).
Sementara itu, Rektor Universitas PGRI Sumenep, Asmoni, menegaskan bahwa PKKMB bukanlah ajang perpeloncoan sebagaimana ospek yang pernah dikenal pada masa lalu.
Menurutnya, PKKMB merupakan ruang bagi mahasiswa baru untuk memahami kehidupan akademik, budaya kampus, sistem pendidikan, hingga berbagai fasilitas yang tersedia di perguruan tinggi.
“PKKMB itu bukan ospek. PKKMB adalah pengenalan kehidupan kampus karena dunia perguruan tinggi berbeda dengan dunia sekolah. Ketika menjadi mahasiswa, kalian sudah dianggap sebagai orang dewasa. Karena itu, perilaku, karakter dan sikap yang ditunjukkan harus mencerminkan kedewasaan,” kata Asmoni.
Ia menjelaskan, mahasiswa nantinya akan bersentuhan langsung dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Menurut Asmoni, mahasiswa tidak boleh menjadikan nilai akademik sebagai satu-satunya orientasi selama kuliah. Mereka juga harus membangun kompetensi, memperluas jaringan, aktif berorganisasi, mengikuti kegiatan riset maupun pengabdian, serta mampu beradaptasi dengan perubahan.
“Pilar pertama adalah akademik. Kuliah bukan hanya untuk mendapatkan nilai, tetapi bagaimana membangun kompetensi dan relasi. Kalian harus banyak belajar dan mencari referensi. Pilar kedua adalah karakter, yaitu menjaga nama baik almamater. Pilar ketiga adalah kontribusi. Mari aktif dalam organisasi, lomba, riset, pengabdian dan berbagai kegiatan lainnya,” tuturnya.
Asmoni juga berpesan agar mahasiswa baru tidak menjadi mahasiswa yang hanya datang ke kampus untuk mengikuti perkuliahan kemudian pulang. Menurutnya, masa kuliah harus dimanfaatkan untuk memperluas pengalaman dan jaringan.
“Jangan hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu. Kalian harus membangun jaringan dan ikut berkontribusi. Pada hakikatnya, perguruan tinggi swasta tidak kalah dengan perguruan tinggi negeri. Yang menentukan adalah kualitas dan kemauan mahasiswanya,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Asmoni juga menyampaikan sejumlah fasilitas yang telah disiapkan Universitas PGRI Sumenep, termasuk ruang perkuliahan yang dilengkapi pendingin udara dan perangkat penunjang pembelajaran. Kampus juga tengah mengembangkan fasilitas olahraga berskala besar yang nantinya dapat digunakan untuk berbagai kegiatan.
Dari sisi pembiayaan pendidikan, ia menyebut Universitas PGRI Sumenep berupaya menjaga biaya kuliah tetap terjangkau. Tahun ini, sekitar 230 mahasiswa baru juga telah ditetapkan sebagai penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Namun, Asmoni mengingatkan para penerima beasiswa agar tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
“Dengan mendapatkan beasiswa, ada konsekuensi untuk belajar sungguh-sungguh dan memberikan kontribusi. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kampus, bangsa dan negara,” ujarnya.
Asmoni berharap mahasiswa baru mampu menjadi pribadi yang unggul, adaptif, mandiri, memiliki etos kerja, serta tetap menjunjung tinggi akhlak dan martabat.
Ia menilai tagline PKKMB tahun ini memiliki pesan penting agar mahasiswa tidak minder meski menempuh pendidikan di perguruan tinggi swasta.
“Jadilah mahasiswa yang tidak hanya pintar, tetapi juga berakhlak dan bermartabat. Kita harus berpikir global, tetapi tidak meninggalkan kearifan lokal,” tegasnya.
Sementara itu, Staf Ahli Bupati Sumenep Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Dedi Falahuddin, yang mewakili Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo, mengajak mahasiswa baru untuk terus berpikir kritis, berinovasi, membangun relasi dan memperluas wawasan.
Ia menilai penggunaan unsur budaya lokal dalam kegiatan PKKMB menjadi bagian penting dari identitas Universitas PGRI Sumenep.
“Kami mengapresiasi panitia karena khas lokalnya tetap dipakai. Ada yang menggunakan odheng dan batik. Ini menandakan bahwa kampus Universitas PGRI Sumenep tidak meninggalkan budaya lokal yang ada,” ujar Dedi.
Menurutnya, mahasiswa perguruan tinggi swasta tidak perlu merasa rendah diri ketika bersaing dengan lulusan perguruan tinggi negeri. Dunia kerja, kata dia, lebih banyak menilai kemampuan dan kompetensi seseorang.
“Tes itu tidak melihat kalian dari kampus mana, tetapi lulus atau tidak saat mengikuti tes. Yang penting adalah bagaimana kita mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia,” katanya.
Dedi juga meminta mahasiswa memanfaatkan masa PKKMB sebagai tahap awal untuk melatih kemampuan beradaptasi dan memperkuat mental. Ia mengingatkan bahwa banyak masyarakat yang setiap hari bekerja dalam kondisi yang jauh lebih berat.
“Ini hanya latihan untuk memperkuat mental. Di luar sana banyak petani yang setiap hari berjemur, ada ojol dan pedagang yang juga bekerja dalam kondisi seperti itu. Jadi, manfaatkan kegiatan ini untuk melatih mental,” ucapnya.
Ia juga menyampaikan rencana pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Sumenep pada Oktober 2026. Menurutnya, keberadaan sekolah tersebut nantinya berpotensi membuka ruang pengabdian sekaligus peluang kerja bagi lulusan bidang pendidikan.
Dedi berpesan agar mahasiswa baru mengikuti proses perkuliahan dengan sungguh-sungguh, menaati aturan kampus, membangun hubungan baik dengan dosen dan sesama mahasiswa, serta menyelesaikan pendidikan tepat waktu.
“Banyak menyerap ilmu, baik dari dosen maupun rekan-rekan lainnya, mematuhi aturan yang ada, dan semoga diberikan kesehatan untuk mengikuti seluruh proses perkuliahan dengan lancar hingga lulus tepat waktu. Itu harapan dari bapak dan ibu orang tua kalian,” pungkasnya.***