“Kami mengapresiasi panitia karena khas lokalnya tetap dipakai. Ada yang menggunakan odheng dan batik. Ini menandakan bahwa kampus Universitas PGRI Sumenep tidak meninggalkan budaya lokal yang ada,” ujar Dedi.

Menurutnya, mahasiswa perguruan tinggi swasta tidak perlu merasa rendah diri ketika bersaing dengan lulusan perguruan tinggi negeri. Dunia kerja, kata dia, lebih banyak menilai kemampuan dan kompetensi seseorang.

“Tes itu tidak melihat kalian dari kampus mana, tetapi lulus atau tidak saat mengikuti tes. Yang penting adalah bagaimana kita mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia,” katanya.

Dedi juga meminta mahasiswa memanfaatkan masa PKKMB sebagai tahap awal untuk melatih kemampuan beradaptasi dan memperkuat mental. Ia mengingatkan bahwa banyak masyarakat yang setiap hari bekerja dalam kondisi yang jauh lebih berat.

“Ini hanya latihan untuk memperkuat mental. Di luar sana banyak petani yang setiap hari berjemur, ada ojol dan pedagang yang juga bekerja dalam kondisi seperti itu. Jadi, manfaatkan kegiatan ini untuk melatih mental,” ucapnya.

Ia juga menyampaikan rencana pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Sumenep pada Oktober 2026. Menurutnya, keberadaan sekolah tersebut nantinya berpotensi membuka ruang pengabdian sekaligus peluang kerja bagi lulusan bidang pendidikan.

Dedi berpesan agar mahasiswa baru mengikuti proses perkuliahan dengan sungguh-sungguh, menaati aturan kampus, membangun hubungan baik dengan dosen dan sesama mahasiswa, serta menyelesaikan pendidikan tepat waktu.

“Banyak menyerap ilmu, baik dari dosen maupun rekan-rekan lainnya, mematuhi aturan yang ada, dan semoga diberikan kesehatan untuk mengikuti seluruh proses perkuliahan dengan lancar hingga lulus tepat waktu. Itu harapan dari bapak dan ibu orang tua kalian,” pungkasnya.***