Selain menyoroti pentingnya historiografi nasional, Riadi juga menekankan peran strategis sejarah lokal dalam melengkapi penulisan sejarah NU secara nasional.

Ia menjelaskan bahwa penulisan sejarah di tingkat cabang maupun wilayah NU mampu menghadirkan gambaran mengenai dinamika sosial, budaya, dan politik pada zamannya sehingga memperkaya perspektif sejarah nasional. 
 

“Sejarah NU di tingkat lokal memberikan panorama zaman sekaligus sudut pandang yang mampu menggambarkan semangat dan kondisi yang melatarbelakangi berbagai peristiwa sejarah. Karena itu, sejarah lokal memiliki kontribusi besar dalam membangun historiografi nasional yang lebih utuh,” ujarnya.

Anggota Tim Kreatif Film Dokumenter Museum Nahdlatul Ulama itu menambahkan, sejarah tidak hanya dibentuk oleh tokoh-tokoh besar, tetapi juga oleh para pelaku di tingkat daerah yang berperan menjaga dan mengembangkan organisasi dalam berbagai situasi. 
 

Menurutnya, ketersediaan dokumen, arsip, data, dan sumber primer di tingkat lokal menjadi modal penting bagi para peneliti untuk menyusun sejarah Nahdlatul Ulama yang lebih lengkap dan akurat. 
 

“Keterhubungan sejarah lokal dengan sejarah nasional, bahkan dengan dinamika sejarah dunia, menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan agar penulisan sejarah benar-benar menghadirkan gambaran yang komprehensif,” tuturnya. 
 

Melalui forum tersebut, para peserta diharapkan semakin memahami pentingnya penguatan riset sejarah berbasis sumber primer, sekaligus mendorong lahirnya penulisan sejarah Nahdlatul Ulama yang lebih ilmiah, objektif, dan mampu memperkaya khazanah Sejarah Nasional Indonesia.