SUMENEP, MaduraPost - Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mencatat laju inflasi tahunan tertinggi di Jawa Timur pada Mei 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi year on year (y-on-y) daerah ini mencapai 5,12 persen, melampaui rata-rata Jawa Timur yang berada di angka 3,49 persen maupun tingkat nasional sebesar 3,08 persen.
Data tersebut dipaparkan Kepala BPS Kabupaten Sumenep, Handoyo Wijoyo, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar pada Selasa (2/6/2026).
Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) sebesar 0,16 persen. Sementara inflasi tahun kalender berjalan (year to date/y-to-d) mencapai 2,07 persen. Untuk indikator y-on-y dan y-to-d, Sumenep menempati posisi paling tinggi dibanding kabupaten/kota lain di Jawa Timur.
Menurut Handoyo, kenaikan harga sejumlah komoditas menjadi faktor utama yang mendorong tingginya inflasi di wilayah tersebut. Emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi, disusul komoditas beras.
“Emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil sebesar 1,45 persen. Sementara beras memberikan andil inflasi sebesar 0,36 persen,” ujarnya, Selasa (2/6).
Tak hanya itu, beberapa bahan kebutuhan pokok lainnya juga ikut mendorong kenaikan harga pada Mei 2026. Di antaranya cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan minyak goreng yang masing-masing menyumbang andil inflasi sebesar 0,08 persen.
“Cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan minyak goreng juga menjadi komoditas yang memicu inflasi bulanan,” kata Handoyo.
Ia menegaskan, data inflasi menjadi instrumen penting bagi pemerintah daerah dalam menentukan arah kebijakan ekonomi, khususnya untuk menjaga kestabilan harga dan melindungi daya beli masyarakat.
“Data ini menjadi penting sebagai acuan pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan ekonomi agar harga-harga bisa kembali stabil dan terjangkau oleh masyarakat,” tambahnya.