Ia menjelaskan, penyajian menu kebab merupakan bentuk variasi dalam Program MBG. Kebijakan tersebut diambil setelah pihak sekolah memberikan masukan agar menu yang diterima siswa tidak selalu sama.

"Kami mendapat masukan dari sekolah agar menu yang disajikan tidak monoton seperti ayam dan telur. Karena itu, kami menghadirkan variasi menu kebab agar penerima manfaat tidak merasa bosan," jelas Thowilus.

Menurutnya, setiap menu yang disiapkan tetap memperhatikan keseimbangan gizi dengan mengombinasikan sumber karbohidrat, protein, sayuran, dan komponen pangan lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan anak usia sekolah.

Dari sisi operasional, Thowilus memastikan dapur SPPG Proppo Pangorayan telah memenuhi berbagai persyaratan pendukung untuk menjamin keamanan dan kualitas makanan yang diproduksi.

"Kami sudah memiliki Sertifikat Sanitasi Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS), tenaga chef bersertifikat, serta seluruh relawan yang telah mengikuti pelatihan penjamah makanan," tuturnya.

Selain itu, dapur MBG tersebut juga didukung fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), alat pengering ompreng, serta water heater untuk menunjang kebersihan dan keamanan proses pengolahan makanan.

Di akhir keterangannya, Thowilus menyampaikan permohonan maaf apabila menu yang disajikan pada hari tersebut kurang diminati oleh sebagian penerima manfaat.

Ia menegaskan pihaknya akan terus melakukan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan Program Makan Bergizi Gratis.

"Saya sebagai Kepala SPPG memohon maaf apabila menu yang kami sajikan kurang diminati oleh penerima manfaat. Kami akan terus berkomitmen melakukan evaluasi agar dapat memberikan pelayanan yang baik, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, serta dapat diterima dengan baik oleh penerima manfaat," pungkasnya.