NASIONAL, MaduraPost - Kasus dugaan penyalahgunaan dana yang melibatkan Koperasi Swadarma di lingkungan Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Pematangsiantar dinilai berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap industri perbankan.

Pengamat ekonomi dari Universitas Simalungun (USI), Darwin Damanik, menilai adanya ancaman reputasi bagi BNI karena kesamaan nama koperasi dengan bank pelat merah tersebut. Menurutnya, kedekatan identitas itu bisa menimbulkan asumsi keliru di tengah masyarakat.

"Secara psikologis, masyarakat sering kali mengasosiasikan koperasi tersebut dengan identitas bank induknya (BNI) karena penggunaan nama yang serupa. Jika nasabah tidak mendapatkan edukasi yang jelas mengenai pemisahan ini, bisa muncul persepsi bahwa sistem pengawasan di lingkungan bank BNI lemah," ujar Darwin kepada Mistar, Jumat (8/5/2026).

Ia menjelaskan, kegamangan informasi dapat memicu kepanikan nasabah. Fenomena ini lazim disebut asymmetric information, yakni ketika terjadi ketidakseimbangan informasi yang membuat publik mengambil langkah defensif.

"Nasabah cenderung bermain aman dengan memindahkan aset mereka ke tempat yang dianggap lebih stabil saat mendengar kabar miring terkait Bank BNI," tuturnya.

Darwin menegaskan, secara fundamental kondisi perbankan BNI tidak terdampak langsung oleh persoalan koperasi tersebut. Modal inti serta tingkat likuiditas bank, kata dia, tidak berkaitan dengan potensi kerugian yang terjadi di koperasi.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sektor perbankan bertumpu pada kepercayaan. Persoalan di luar struktur bank memang tidak otomatis mencerminkan kesehatan finansial institusi, tetapi cara manajemen merespons isu menjadi faktor kunci.

"Sekali kepercayaan terusik, pemulihannya membutuhkan waktu dan transparansi yang nyata. Bank harus proaktif melakukan edukasi publik dan pemulihan citra untuk meyakinkan kembali para nasabah," ujarnya.***