Menghormati orang tua tidak berhenti saat mereka meninggal. Banyak tradisi yang dilakukan untuk tetap menunjukkan bakti kepada orang tua yang telah tiada, seperti tahlilan, ziarah kubur, dan sedekah atas nama mereka.
2. Ghuru: Guru adalah Cahaya Kehidupan
Selain orang tua, guru juga menempati posisi yang sangat tinggi dalam hierarki penghormatan masyarakat Madura.
Ilmu dianggap lebih berharga dari harta. Masyarakat Madura percaya bahwa keberkahan hidup tidak hanya datang dari kerja keras, tetapi juga dari ilmu yang diberikan oleh guru.
Oleh karena itu, murid-murid di Madura selalu menjaga adab terhadap guru mereka, baik di dalam maupun di luar kelas.
Pesantren menjadi pusat pendidikan utama. Banyak anak-anak Madura yang dikirim ke pesantren sejak kecil, bukan hanya untuk menuntut ilmu agama, tetapi juga untuk belajar menghormati dan menaati kyai mereka.
Murid tidak boleh melawan atau membantah guru. Bahkan, dalam beberapa cerita masyarakat, murid yang durhaka kepada gurunya sering kali dipercaya akan mendapatkan kesialan dalam hidup.
3. Rato: Pemimpin adalah Panutan
Di Madura, pemimpin bukan sekadar orang yang memegang kekuasaan, tetapi juga tokoh yang harus dihormati dan ditaati.