Setelah kembali ke Indonesia, ia mendirikan Partai Rakyat Indonesia dan menjadi pemimpin redaksi Revee Politiek (1932-1936).
Kariernya terus menanjak, hingga ia mengelola beberapa media besar seperti Pemandangan, Suluh Indonesia, dan Indonesia Merdeka.
Baca Juga:Untuk Meningkatkan Produktivitas Pertanian di Pamekasan, Petrokimia Gresik Gelar One Day Promotion
Di masa penjajahan Jepang, Tabrani memimpin koran Tjahaya di Bandung. Namun, aktivitasnya membuatnya dijebloskan ke penjara Sukamiskin.
Di penjara, ia mengalami penyiksaan yang menyebabkan kakinya pincang. Setelah bebas, ia kembali berjuang lewat dunia jurnalistik.