Seandainya bukan karena Tabrani, mungkin hingga kini kita masih menyebut bahasa persatuan sebagai "Bahasa Melayu."
Lahir di Pamekasan, Madura, pada 10 Oktober 1904, Tabrani awalnya menempuh pendidikan di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) di Bandung.
OSVIA sebetulnya mencetak pegawai pemerintah (amtenar), tetapi Tabrani lebih memilih menjadi wartawan.
Perjalanan jurnalistiknya dimulai di Hindia Baroe (1925-1926) di bawah bimbingan Agus Salim. Ketika Agus Salim meninggalkan posisinya, Tabrani naik menjadi pemimpin redaksi.
Ia kemudian melanjutkan studinya di Berlin Universität dan Köln Universität, Jerman, mengambil jurusan Jurnalistik dan Ilmu Persuratkabaran.