Pasca-kemerdekaan, Tabrani ikut membidani lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 1946. Ia juga mendirikan Institut Jurnalistik dan Pengetahuan Umum bersama Mr. Wilopo di Jakarta.

Murid-muridnya kelak menjadi jurnalis ternama, termasuk Anwar Tjokroaminoto dan Syamsudin Sutan Makmur.

Mohammad Tabrani wafat pada 12 Januari 1984, di Jakarta, dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir. Meski namanya tak selalu disebut dalam sejarah besar bangsa, jasanya dalam menamai bahasa persatuan tak bisa dilupakan.

Bagi masyarakat Pamekasan dan Madura, sosok Tabrani adalah kebanggaan. Ia membuktikan bahwa putra daerah bisa menjadi tokoh nasional, asalkan memiliki semangat belajar dan tekad kuat.

Jadi, siapa bilang orang Madura tidak bisa memberi pengaruh besar bagi Indonesia? Tabrani adalah buktinya!***