Ia juga membantah bahwa dosen pembimbing bersikap terlalu ketat. "Buktinya, skripsinya selesai tepat waktu dan ujian akhirnya juga tuntas," tegasnya.
Menanggapi kejadian tersebut, Wakil Ketua DPRD Pamekasan, Ismail, menyatakan keprihatinannya. Ia menilai bahwa sistem akademik yang terlalu birokratis kerap kali menambah beban mahasiswa, terutama yang memiliki kondisi kesehatan khusus.
"Sistem akademik seharusnya lebih fleksibel, apalagi dalam kasus seperti ini. Kampus harus belajar dari kejadian ini agar tidak terulang di masa mendatang," ujar Ismail yang juga merupakan alumnus IAIN Madura.
Ismail berjanji akan memanggil pihak kampus untuk dimintai keterangan lebih lanjut dan mendorong evaluasi terhadap sistem bimbingan skripsi. "Ini pelajaran besar bagi dunia pendidikan kita," pungkasnya.
Kisah RA menjadi pengingat pentingnya keseimbangan antara ketegasan akademik dan empati dalam dunia pendidikan. Semoga kejadian serupa tidak lagi terjadi di kampus mana pun.***