hal ini kemudian menimbulkan spekulasi publik bahwa reuni 212 pada 2 Desember 2025 adalah acara politik yang dikemas dalam kegiatan agama.
"Bagi kami, Acara Reuni 212 kali ini lebih kental aroma politiknya ketimbang kegiatan agamanya, dan ini merupakan politik pecah belah yang ingin agar Bapak Prabowo pecah kongsi dengan Mas Gibran selaku wakil Presiden RI," Kata Juhari yang juga alumni 212. Sabtu (29/11/25)
Menurut Jauhari, Acara tersebut seharusnya menjadi momentum untuk mempersatukan bangsa, salah satunya dengan mengundang semua tokoh yang ada di negeri ini untuk hadir dalam kegiatan tersebut.
"Untuk apa mereka mengundang Presiden Prabowo dan Anies Tanpa mengundang Mas Gibran, Maka jangan salahkan publik jika acara tersebut lebih kental nuasa politiknya," Jelas Jauhari.