Menurut Andre, hoaks semakin meluas karena tidak disaring sebelum sharing, malas verifikasi sendiri, tidak tahu cara verifikasinya, literasi yang lemah, jurnalisme yang lemah, terlalu mencintai tokoh dan terlalu membenci tokoh.

Achmad Syafii, salah satu peserta training mengaku pernah menjadi korban penerimaan hoaks. Pada saat marak-maraknya covid-19, ada informasi bahwa dengan makan telur pada dini hari akan sembuh dan terhindar dari penularan covid-19.

“Akibat hoaks makan telur itu, dagangan telur orang tua saya disebu pembeli malam-malam. Orang juga percaya dengan informasi itu,” terang Syafii.

Sementara itu, Kepala Biro Administrasi Umum Akademik dan Kemahasiswaan (AUAK) Syamsul Bahri mengatakan, jurnalis memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi yang berkualitas dan menangkal informasi hoaks. Bahkan jurnalis tidak hanya menyampaikan informasi, namun juga bisa menangkal informasi hoaks.