Kasihumas menambahkan, bahwa terjadinya balapan motor di kalangan remaja ini mungkin karena terinspirasi dari tontonan balapan seperti MOTOGP atau mungkin karena keinginan jadi pembalap. Namun, dalam hal ini yang menjadi minusnya adalah cara mereka melakukan balapan tersebut. Mereka melakukan balapan motor tersebut secara liar tanpa menggunakan lintasan resmi, tetapi mereka melakukannya di jalan raya.

Tentunya aksi tersebut sangat bisa dianggap meresahkan dan membahayakan keselamatan. Bahkan keselamatan mereka pun. Ditakutkan banyak korban jiwa yang ditimbulkan dari aksi balap liar. Belum lagi, aksi balapan liar yang dilakukan oleh remaja ini biasanya diikuti dengan tindakan kriminal seperti tawuran yang semakin menimbulkan keresahan di masayarakat.

Terbukti bulan lalu, Sabtu (1/2) malam sekitar pukul 24.00 wib, Warga Persatuan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Pamekasan Diah Nur Laili menjadi korban aktivitas meresahkan tersebut.

Korban dalam perjalanan pulang menuju Kecamatan Pademawu usai latihan PSHT, ditabrak oleh pemotor yang diduga sedang melakukan bali di Jalan Jokotole atau depan SMPN 5 Pamekasan.