Tentunya itu semua mengindikasikan bahwa bahasa Arab di era digital ini tetap mampu eksis bahkan mengalami progres yang siginfikan di negara-negara non-Arab. Maka, atas dasar ini pulalah, pada tahun 2010 Maroko dan Arab Saudi sebagai anggota UNESCO (United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization) berinisiasi untuk mengusulkan ke organisasi di bawah naungan PPB tersebut, agar tanggal 18 Desember di mana bahasa Arab ditetapkan sebagai bahasa resmi PBB yang diperingati sebagai hari bahasa Arab sedunia (world Arabic language day).

Eksistensi bahasa Arab memang kalah pamor dengan bahasa Inggris, sehingga hal ini sebagaimana ditulis Ubaid Ridha dalam artikel jurnalnya disebabkan karena budaya konsumtif yang tinggi di kalangan negara Arab, ditambah dengan adanya ledakan informasi yang secara sadar atau tidak sadar kalau bahasa Inggris mulai menyebar masuk ke dalam sistem-sistem sosial di kalangan Arab sendiri.

Misalnya, dalam bidang pendidikan sekolah-sekolah di Arab, terutama dalam mata pelajaran Eksakta, seperti: Kimia, Fisika, Matematika dan Biologi, buku-bukunya menggunakan bahasa Inggris. Begitu juga di dunia teknologi dimana kosa kata bahasa Asing tidak bisa dibendung.

Mirisnya, kosa kata itu diterima apa adanya, karena secara level sosial akan dianggap sebagai orang yang modern, sehingga yang terjadi adalah perubahan kalimat asing yang hanya dari sisi tulisan dari latin ke Arab saja, sedangkan bunyinya tetap sama. Seperti kata: Laptop, Mouse dan lain sebagainya.