Peristiwa ini baru diketahui orang tua S saat korban terus menangis tanpa sebab. Terkadang, S selalu merenung di rumahnya dengan tatapan kosong.
Hari demi hari orang tua korban yang sudah mulai curiga dengan kelakuan putrinya yang tidak biasa, akhirnya mencoba berbicara dari hati ke hati.
Dari sinilah perlahan S mulai membuka suara pada orang tuanya. Terkuak, tiga hari setelah kejadian S berani mengungkapkan apa yang dialami dirinya.
Menurut pengakuan korban yang diterima Nurfaidi, pelaku dengan keji mengancam S akan dibunuh jika tidak memenuhi nafsu bejatnya itu.
"S mengatakan akan dibunuh kalau tidak mau melayani pelaku, apalagi sampai memberitahukannya kepada orang lain," kata Nurfaidi menirukan pengakuan S di Mapolres Sumenep saat membuat laporan.