Disebut 'kampung toleransi' karena di perkampungan tersebut terdapat masjid, geraja, dan klenteng yang jaraknya berdekatan.
"AlhamdulilLah tidak pernah terjadi konflik sosial yang berlatar SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan)," kata Bupati Fauzi dihadapan para kiai dan pengurus Nahdlatul Ulama, Sabtu (5/3).
Bupati Fauzi menerangkan, Kabupaten Sumenep terdiri dari wilayah daratan dan kepulauan. Di samping itu juga terdiri dari berbagai suku dan bahasa, tidak hanya suku dan bahasa Madura. Seperti halnya suku atau etnis Mandar, Bajo, Bugis, Arab, dan Tionghoa.
"Bahkan masyarakat Sumenep juga ada yang pakai bahasa Bajo, seperti di wilayah kepulauan Sapeken," kata politisi muda PDI Perjuangan itu.