"Jek terlalu tis politis, ajiyeh MUI ma'pas tabelik, desarah apah ? Ereken kalakowan ebede cuma pasah Ben apejeng maloloh, Soro ngaji pole koh, Mun tak Keng Karen a politik tak kerah akomen agek jiyeh," Kata Rofiuddin dalam bahasa Madura yang aktinya kurang lebih "Jangan terlalu Politis, MUI kok kebalik, dasarnya apa ? Dikira perbuatan ibadah cuma puasa dan solat, suruh ngaji lagi. Kalo bukan karena politik, tidak mungkin MUI komentar seperti itu,".

Tidak hanya MUI, Rofiuddin juga menyebut Serikat Islam (SI) Pamekasan terlalu sok dan offside. Karena menilai keputusan SI tidak melalui musyawarah para ulama sepuh seperti KH Mohammad Rofi'i Baidhowi pengasuh PP Al-Hamidy Banyuanyar.

"Ben SI ma'pas nyul manganyul akebey keputusan age' jiyeh, Apah mareh ekarapat neng ulama SI, mareh ekarempek ? Je'reng Kyai Muhammad telem temur SI, Mon can engkok Offside jiyeh," lanjut Rofiuddin yang artinya " dan SI kok sok buat keputusan seperti itu, apakah sudah dirapatkan oleh para Ulama SI, Sudah musawaroh ? Bukankah Kyai Muhammad juga SI, Kalo menurut saya SI Offside,"

Sebelum kritikan pedas pada MUI dan SI, Rofi'udin melontarkan beberapa penggalan ayat Alquran yang menurutnya sebuah dalil tentang pentingnya mengangkat sebuah pemimpin.