"Saat itu Bung Tomo sudah pindah ke Malang dan siaran dari sana," tulis K'tut dalam bukunya.

Sekutu terus memburu Bung Tomo, yang berhasil menangkapnya akan diberikan apresiasi secara khusus, karena itu Bung Tomo pindah karena merasa kurang aman. Namun, sorakan Bung Tomo terus bergema tiada hentinya meski siaran dari Malang.

"Darah pasti banyak mengalir. Jiwa pasti banyak melayang. Tetapi, pengorbanan kita tidak akan sia-sia, Saudara-saudara. Anak-anak dan cucu-cucu kita di kemudian hari, Insya Allah, pasti akan menikmati segala apa hasil daripada perjuangan kita ini," Tukas Bung Tomo berapi-api pada 10 November 1945.

Orasi Bung Tomo terus menyulutkan api semangat pemuda-pemuda. Pidatonya terus menggema, terdengar sampai ke Yogyakarta dan Jakarta tanpa hentinya.