"Mungkin di markas mereka di Jalan Biliton," imbuhnya singkat.
Pendapat lain datang dari Seniman K'tut Tantri pada halaman "Revolt ini Paradise, saat tragedi berlangsung, ia berada di Surabaya waktu Sekutu membumihanguskan Surabaya.
Tantri pernah menjadi tahanan Jepang, setelah keluar dari kurungan, Seniman berdarah Skotlandia tersebut dituduh menjadi mata-mata. Seniman perempuan itu kemudian bergabung dengan Barisan Pemberontak sebagai penyiar Radio Pemberontakan, ia menyiarkan secara khusus untuk siaran berbahasa Inggris.
Saat pertempuran 10 Nopember 1945 meledak, ia tetap bertahan di studio Radio Pemberontakan yang berada di Jalan Mawar, Surabaya. Di Jalan Mawar ia bertahan hingga 14 November 1945 sebelum akhirnya mengungsi ke selatan.