"Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan permohonan maaf, bahwa pada tanggal 13 Agustus 2021, hari Jumat, pukul 13.00 WIB, saya mengundang 16 Kepala Desa, tokoh agama diantaranya MUI, NU, Ansor, PKK Kecamatan, dan Muslimat. Kemudian juga ada Kapolsek, Danramil dan dua Pustu Legung serta Batang-Batang," ucapnya, dalam video klarifikasi yang diterima media ini.
"Dalam video yang viral bahwa saya memerintahkan Kades mencuri sapi, itu adalah guyonan. Coba bapak ibu dengarkan kembali, di video itu terlihat semua orang ketawa, itu tidak benar. Jadi saya mohon maaf, karena guyonan ini jadi semua salah tafsirkan oleh teman-teman. Jadi sekali lagi saya minta maaf," tambahnya.
Selain dianggap video tersebut adalah editan semata, Joko mengaku bahwa pernyataannya adalah guyonan. Sementara video yang tersebar di platform Facebook adalah video yang tidak lengkap, alias telah melewati proses editing atau pemotongan video secara sepihak.
"Jadi dari video viral itu hanyalah editan, tidak lengkap. Kalau lengkap, pasti pertama kali saya sudah menyampaikan kata-kata assalamualaikum. Kemudian siapa petinggi setelah Camat, ada pak Kapolsek, Danramil, pasti sudah saya sebutkan. Nah, dari video itu kan tidak ada. Malah sudah dipotong-potong. Jadi saya minta maaf, memang kesalahan saya," akuinya.
Dia pun juga mengklarifikasi atas instruksinya pada Kepala Desa (Kades) untuk mencuri sapi milik warga jika tidak ingin divaksin. Joko menerangkan, seorang Kades harus memiliki kartu sakti atau kartu AS. Tujuannya, kata dia, agar setiap ada laporan apapun dari warga harus tersampaikan kepada pemerintah desa (Pemdes), utamanya Kades.