“Kemarin itu teman-teman dari pendamping (Konsultan dari UB, red) sudah datang ke Sumenep dua hari berturut-turut, untuk menyelesaikan target kinerja dari masing-masing kegiatan. Ternyata belum dapat terselesaikan karena kekritisannya teman-teman OPD. Dalam memutuskan satu indikator saja dapat berdiskusi dengan panjang, sehingga terbentur oleh keterbatasan waktu,” dalihnya.

Tak ayal jika sejumlah kritikan pun datang, salah satunya dari warga Kecamatan Kota, Sumenep, Anam. Dia bahkan bingung dan menanyakan, apa bedanya membahas Perbup, RKPD dan RPJMD di kota sendiri dengan di Kota Batu, Malang.

“Kenapa harus digelar di luar kota, apa tidak bisa dibahas disini. Kan itu harus mengeluarkan anggaran perjalanan dinas (Perdin) hanya untuk membahas RKPD dan lainnya itu,” ucapnya dengan analisa.

Menurutnya, jika hanya tentang keterbatasan waktu sebab kurangnya waktu bersama konsultan, bisa saja dilanjutkan dengan cara daring atau online.

“Kalau hanya alasan keterbatasan waktu harus dibahas di luar kota, menurut saya tidak masuk akal dan terkesan hanya buang-buang anggaran Perdin saja. Bukannya bisa minta pendamping secara virtual, apalagi saat ini wabah Covid-19 belum usai,” sesalnya.