Apalagi satu tahun masa pandemi Covid-19 melanda Indonesia, Bandara Kelas III Trunojoyo Sumenep nampak terlihat vakum, seolah nampak tidak ada penumpang.

Sebab itu, di masa pandemi ini, pihaknya mencoba bekerjasama dengan salah satu perusahaan penyedia alat pendeteksi virus Corona. Hal itu dilakukan, mengingat syarat menggunakan jasa transportasi udara harus negatif Covid-19.

Disamping itu, kata Qodri, biaya Rapid Antigen dan Swab PCR yang cukup mahal berkisar di angka Rp 250 ribu, menjadi faktor penumpang enggan menggunakan jasa transportasi udara.

Qodri mengatakan, saat ini Bandara Kelas III Trunojoyo Sumenep akan menggunakan GeNose. Diketahui, alat pendeteksi virus Corona bernama GeNose, yang dibuat oleh para ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM), resmi mengantongi izin edar dari Kementerian Kesehatan.