Ia mengaku kehilangan sumber penghidupan setelah usaha toko kelontong di Jakarta terpaksa ditutup. Pekerjaannya sebagai pengemudi ojek daring pun terhenti total.
Akibat kondisi tersebut, anaknya tidak lagi melanjutkan sekolah. Menurut Musahwan, sang anak mengalami tekanan psikologis karena ayahnya tak kunjung pulang ke rumah. Sementara itu, istrinya harus kembali ke Sapudi dan bertahan hidup dari uluran tangan keluarga serta tetangga.
“Sejak ditahan, saya sering menangis di dalam tahanan. Anak-anak didik saya yang berjumlah 27 orang di Jakarta juga saya tinggalkan,” katanya dengan suara bergetar.
Musahwan juga menyinggung proses hukum yang ia nilai janggal. Ia mengaku beberapa kali memenuhi panggilan kepolisian sebagai saksi, namun pada pemanggilan berikutnya statusnya berubah menjadi tersangka dan langsung ditahan tanpa kesempatan kembali ke rumah.