“Prinsip kami jelas, pembangunan di desa harus dikerjakan oleh warga desa sendiri. Kalau mereka sudah kompeten dan bersertifikat, tidak perlu lagi tenaga dari luar,” tambahnya.

Dampak program ini mulai terasa. Kini, banyak desa di Sumenep yang memiliki tenaga konstruksi profesional sendiri, mampu mengerjakan proyek secara mandiri, dan menjaga mutu hasil pekerjaan.

Selain mendorong efisiensi biaya, langkah ini juga memperkuat ekonomi lokal dengan membuka lapangan kerja baru serta menekan kesenjangan antara wilayah daratan dan kepulauan.

“Kalau tenaga lokal sudah punya daya saing, ekonomi desa akan ikut bergerak. Jadi, pembangunan tak hanya berhenti pada hasil fisik, tapi juga mendorong kemajuan sosial dan ekonomi,” imbuh Imam.